Pages

Kerasnya Jogja (Black Side of Jogja)

Melihat realita kehidupan di Jogja, memahami Jogja dari sisi lain

Kenapa Minum Obat Maag Tablet Sebaiknya dikunyah ?

Tahukah kamu, obat maag tablet yang dikunyah itu membantu mempercepat kerja obat ?

Tips Menyimpan Obat Sirup

Bila obat sirup telah dibuka, tanggal kadaluarsa yang tertera pada botolnya tidak berlaku lagi lho.. Simak penjelasannya..

Awake, Terjaga Saat Operasi

Pernahkah kamu bermimpi terbangun saat operasi berlangsung ?

Tips Berbelanja

Merasa menyesal setelah berbelanja karena tau-tau uangmu habis ? simak tips-tips berikut..

Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

Monday, September 12, 2011

Kerasnya Jogja (Black Side of Jogja)

Jogja kota pelajar, Jogja kota berbudaya. Itulah anggapan masyarakat mengenai Jogja, mungkin juga saya. Banyaknya kampus-kampus terkenal di Jogja menjadikan Jogja sebagai kota tujuan untuk menimba ilmu bagi para calon mahasiswa. UGM, UNY, UPN, UII, dan beberapa universitas lainnya, serta beberapa akademi membuat Jogja semakin ramai dengan kedatangan anak-anak perantauan. Tidak heran bila Jogja disebut Kota pelajar. Bahkan orang-orang dari Sabang hingga Merauke bisa ditemui di Kota ini, di Kota Gudeg ini. Tidak ketinggalan juga para bule yang ikut meramaikan Jogja. Entah itu untuk berwisata saja atau memang untuk hal lainnya. Jogja yang masih kental akan budayanya juga menjadi daya tarik lain dari kota ini. Masyarakat yang santun, ramah, bangga akan budayanya, yang menjunjung sultannya, mungkin memang tidak bisa ditemui di kota lain. 

Jogja kota yang besar. Akses di kota ini begitu cepat. Mau cari bandara? ada. Audisi acara-acara televisi? sering. Mau cari bioskop? ada dua. Mau cari cafe? berjamur. Mau cari tempat karaoke? nggak cuma satu. Mau cari tempat clubbing? tinggal pilih yang mana. Begitu lengkapnya isi Jogja ini. Mulai dari tempat yang bener sampai tempat yang melenceng pun ada. Anak-anak perantauan yang umumnya berasal dari daerah yang mungkin tidak selengkap ini kadang menjadi terbawa dengan keadaan lingkungan. Ada anak yang fanatik sama agama, pulang ke rumah jadi aneh banget. Ada juga anak yang menghilang gara-gara ikut N11. Ada anak yang biasa-biasa saja. Ada anak yang bisa membuat orang tuanya bangga. Ada anak yang kalo malem malah ajeb-ajeb. Melihat cewek merokok di warung penyetan pun biasa. Anak-anak perantauan memang seperti anak ayam lepas dari kandangnya, anak-anak yang labil, yang terbawa arus sana-sini, yang tidak bisa melihat batas benar dan salah. Punya pacar di Jogja bisa-bisa hamil diluar nikah. Empat dari 24 anak perantauan bisa mengalami ini. Data dari mana? Bukan dari sebuah penelitian memang. Percaya tidak? Lihat saja kalau besok jadi anak kos di Jogja. Amati saja teman-temanmu. Siapa yang ngajak clubbing, siapa yang pacarannya getol sampai nggak pulang kos, siapa yang hamil diluar nikah, siapa yang suka nginep di kos pacarnya atau kontrakan pacarnya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Lalu pikirkanlah berapa banyak jumlah anak kos di seluruh Jogja. Keras memang hidup di Jogja. Tapi bukan berarti punya pacar di Jogja itu nggak boleh ya..Makanya pilih pacar yang bener! Katanya Jogja Kota berbudaya? Pikirkanlah. Orang-orang dari Sabang hingga Merauke ada di sini, tentu membawa budaya masing-masing, tabiat masing-masing, adab masing-masing. Ada yang baik, santun, tapi ada juga yang bisa membawa pengaruh buruk untuk kamu. Orang Jogja asli mungkin masih tetap menjaga apa yang menjadi budayanya, menjaga kesantunannya, tetapi apakah orang perantauan seperti itu? Semua itu sebenarnya masih bisa dihindari dengan syarat kamu punya pegangan. Pegangan apa? Agama. Agama yang akan menjagamu. Tapi bukan berarti jadi fanatik ya..Mengingat jerih payah orang tuamu untuk membayar uang kuliahmu bisa menghindarkanmu dari perbuatan yang tidak baik. Satu lagi, jangan melawan orang tua selama yang disampaikan itu benar. Melawan orang tua bisa membuatmu kuwalat. Tidak percaya dengan karma? Teman-teman saya sudah membuktikan. Pasanglah foto orang tuamu di dompetmu. Pikirkanlah apa yang terjadi dengan senyum mereka jika kamu mengecewakan keduanya. Dan kembalilah pada tujuanmu untuk apa kamu di sini. Semua hal tadi bisa saja terjadi dimana pun kamu berada. Tidak hanya di Jogja, dimana pun kamu merantau bisa saja terjadi hal yang sama. Oleh karena itu, bisa menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik itu akan lebih baik.

Tulisan ini tidak untuk menyurutkan niatmu untuk menimba ilmu di Jogja. Hanya saja lebih baik kita tahu keadaan sebenarnya supaya tahu pencegahannya. Lebih baik mencegah daripada mengobati kan? Ingatlah, hal-hal yang terlalu selalu tidak baik. Karena penyesalan selalu datang di akhir. Tetep semangat ya kuliah di Jogja!

Friday, December 11, 2009

Kaliurang

Kaliurang is a small town located about 25 km north of the town of Yogyakarta, on the island of Java, Indonesia. It is located on the southern slopes of Mount Merapi, an active volcano. Kaliurang lies at the foot of Plawangan hill on the southern slope of mount Merapi, some 28 km, north of Yogyakarta.

In the early of the nineteenth century, some Dutch geologists living in Yogyakarta intended to find a place for their family to spend their vacation. They went along the edge of the north area as the high land. Arriving at Kaliurang that is located on 900 meter above sea level, the "meneers" were enchanted by the nature beauty and coolness in that foot of the mountain. They finally built bungalows and decided to make the area their place for vacation.

When the weather is clear, a spectacular sight of the panoramic view that covers the surrounding forest of Plawangan and Kaliurang, and the rolling green country side that fades into the distant misty horizon of the blue Indian Ocean can be seen easily. The best time to view the mountain is shortly after sunrise (before 09.00 o'clock ), when the early morning light starts lifting up the shroud of mist around its peak.

Kaliurang is a resort town, popular as a weekend destination for visitors from Yogyakarta. Attractions include the cool air, views, and an extensive forested park with trails. The town charges a small admission fee to visitors, paid at a booth on the busy main road from Yogyakarta.

As a mountain resort Kaliurang offers accommodation facilities - villas, bungalows, inns as well as recreational facilities, such as swimming pools, tennis courts and playground. Kaliurang, especially during the holidays. Young people, like boy scouts, enjoy going there since the town provides camping sites and places for mountaineering. Those who like mountain climbing can climb the Merapi Mountain from Kaliurang. Kaliurang has been an important base for vulcanologists in their monitoring of eruptions of Merapi, especially when the southern slopes of the volcano become active.

Malioboro Street

Malioboro street is the centre of Yogyakarta's largest tourist district; many hotels and restaurants are located nearby. Sidewalks on both sides of the street are crowded with small stalls selling a variety of goods. In the evening several open-air streetside restaurants, called lesehan, operate along the street.

The street was for many years two-way, but by the 1980s had become one way only, from the railway line (where it starts) to the south - to Beringharjo markets, where it ends. The largest, oldest Dutch era hotel, Hotel Garuda, is located on the street's northern end, on the eastern side adjacent to the railway line. It has the former Dutch era Prime Minister's complex, the kepatihan, on the eastern side.

For many years in the 1980s and later, a cigarette advertisement was placed on the first building south of the railway line - or effectively the last building on Malioboro, which advertised Marlboro cigarettes, no doubt appealing to locals and foreigners who would see a pun with name of the street with a foreign product being advertised.

Along with fast-paced shopping experience, there are a number of hotels located on Jl Malioboro. Hotels like Inna Garuda, Ibis Malioboro and Mutiara are rather popular among tourists, providing them with easy access to eateries, shops, batik studios, art galleries and travel bureaus.

There are a number of large shopping outlets here, apart from the regular and personalised moms-and-pops traditional shops. The expansive Malioboro Mall is located almost midway towards the Sultan's Keraton. A store named Dagadu located on lower ground is the main highlight of the mall, selling funky and contemporary T-shirts that make good souvenirs. There is also a traditional market called Pasar Beringharjo selling all kinds of local goods. Opposite Pasar Beringharjo is a fancy handicraft store called Mirota Batik.

Local food :

  • Gudeg, a curry of jackfruit, chicken and egg served with rice, and is the most famous local dish. Nasi Langgi (Langgi Rice), warm rice served with various side dishes.
  • Kipo, bite size snacks made of green colored tapioca dough filled with sweetened grated coconut. Can be found in Kotagede.
  • Jadah Tempe, sandwich of rice cake and sweet bencake. Can be found in Kaliurang.




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More